"Kami percaya, dimeja ini potongan-potongan kebersamaan, kemitraan, pertemanan, dan dedikasi diri dikumpulkan menjadi satu bagian utuh. Di meja ini pula awal dedikasi diri, kami temukan."

Saturday, December 8, 2007

Bar Code Untuk Spesies

Pernah berbelanja di supermarket atau di pusat perbelanjaan? Ketika kita mau bayar, kasir mengidentifikasi barang belanjaan kita dengan alat yang bisa membaca garis-garis hitam pada barang belanjaan kita. Dengan begitu, mereka (baca:bagian kasir) dapat dengan mudah tahu jenis dan harga barang yang kita beli. Memang tampak sederhana garis-garis hitam itu, yang disebut bar code, tapi benar-benar sangat membantu!Bayangkan kalau di makhluk hidup juga ada bar code, jangan-jangan kita punya harga juga?! Hoho. Tapi ada alasan lain, klasifikasi dan taksonomi spesies.

Adalah Carl Linneus yang pertama kali mengenalkan sistem binomial nomenklatur spesies, yang sampai sekarang masih dipakai dalam penamaan dan pengklasifikasian spesies. Sistem yang digunakan oleh Lineus lebih mengutamakan morfologi. Pada tahun 1942, ornitologis Ernst Mayr mengajukan konsep spesies biologi berdasarkan kelakuan organisme, lokasi geografis, ciri-ciri reproduksi,data genetis, ekologi, dan penampilan fisik. Dan tren ilmuan saat ini adalah menambahkan DNA bar code sebagai definisi dan klasifikasi spesies.

Sistem pengklasifikasian konvensional Lineus yang masih mengutamakan perbedaan morfologi tak dapat dijadikan patokan yang pasti dalam mengenali makhluk hidup yang memiliki beberapa fase kehidupan, misalnya telur. Hal ini berbeda jika pengidentifikasian dilakukan dengan DNA bar coding. Prinsip DNA bar coding adalah menggunakan sekuen DNA yang unik dan berbeda antara spesies yang satu dengan spesies yang lainnya. Dengan begitu tiap spesies dapat dibedakan dengan spesies lainnya. Ilmuan saat ini memilih DNA pada mitokondria untuk barcoding hewan karena beberapa alasan. Pertama, DNA mitokondria diwariskan secara maternal, sehingga menghindari rekombinasi DNA pada spesies yang sama. Kedua, DNA mitokondria memiliki frekuensi delesi dan insersi yang rendah. Ketiga, DNA mitokondria banyak dijumpai di sel sehingga mudah dideteksi.

Dengan ditemukannya DNA bar coding, identifikasi suatu spesies bukanlah hal yang menyulitkan lagi. Mungkin suatu saat nanti setiap individu manusia memiliki bar code sebagai identitas. Bisa-bisa hal ini digunakan dalam pedagangan orang. Hehe.

No comments: